Kisah Para Pemburu Mayat Korban Tsunami

Mayat-mayat itu seperti tak ada habisnya. Setelah 45 hari pascabencana tsunami, sedikitnya sudah 112.000 mayat yang sudah ditemukan dan dikuburkan. Namun proses pencarian mayat masih berlanjut. Diperkirakan mayat yang berada dibawah reruntuhan gedung, rumah maupun terendam di rawa-rawa dan belum terevakuasi, jumlahnya masih banyak.

Harus diakui, proses evakuasi mayat merupakan pekerjaan yang cukup berat. Selain jumlahnya demikian banyak, medan yang harus dilalui para relawan juga sangat berat. Bisa dikatakan tingkat kesulitan yang dihadapi relawan mengevakuasi mayat tak ada bedanya antara hari pertama pascabencana dengan hari ke-45. Serba sulit dan penuh risiko.

Sebagian besar mayat-mayat berada di bawah reruntuhan bangunan yang ambruk total. Akibatnya para pemburu mayat mesti mengangkat satu per satu puing-puing yang menutup mayat. Kecuali kalau ada alat berat, pekerjaan evakuasi bisa lebih mudah. Namun, karena jumlah alat berat sangat terbatas, para relawan pun tak terlalu banyak berharap dari alat tersebut. Mereka bekerja secara manual, dengan tangan-tangan mereka.

Satu hal yang patut diberi penghargaan, para relawan seperti tak kenal lelah mengevakuasi mayat. Setiap hari mereka mencari, mengais-ngais di antara reruntuhan untuk kemudian mengangkat dan menguburkan mayat-mayat tersebut di tempat yang sudah disediakan. Mereka tak dibayar. Bahkan sebagian besar mereka datang ke Aceh dengan ongkos sendiri dan setiap hari makan dengan uang sendiri.

Diantara kelompok pemburu mayat yang paling menonjol selain Satkorlak Nasional adalah Front Pembela Islam (FPI). Sejak bencana terjadi, FPI telah menurunkan lebih dari 1.300 anggotanya. Saat ini secara bergiliran mereka masih bertugas mencari mayat. Rata-rata setiap hari ada 600 anggota FPI bertugas untuk mencari mayat, tersebar di berbagai daerah bencana di Aceh. Setiap harinya mereka masih bisa menemukan 100 hingga 300 mayat.

Sekjen FPI, Husni Harahap mengemukakan bahwa FPI akan terus mencari mayat di Aceh. Menurutnya mencari mayat lalu menguburnya adalah fardhu kifayah. “Alasan kita terus mencari mayat karena menyelesaikan jenazah hukumnya fardhu kifayah. Kita yakin orang yang mati tenggelam adalah syahid. Kita tidak mau membiarkan orang mati syahid dibiarkan begitu saja. Di Aceh ini masih banyak mayat dengan kondisi rusak bahkan ada yang dimakan anjing. Itu tidak bisa kita biarkan, maka FPI terus berusaha mencari mayat-mayat disini.” jelas Husni.

Hal lainnya, kata Husni, yang menjadi pertimbangan FPI terus mencari mayat adalah jika mayat-mayat berserakan tidak segera di evakuasi, dikhawatirkan akan memnculkan virus yang membahayakan orang yang masih hidup.
Heru, santri yang juga salah seorang relawan pemburu mayat anggota FPI asal Jakarta mempunyai pengalaman yang membuatnya susah untuk dilupakan. Saat mencari mayat memasuki minggu ketiga di daerah Lampeuk, Kec. Lhoknga, Kab. Aceh Besar, bersama rekan lainnya, mereka mengangkat mayat-mayat yang masih berserakan. Namun ketika itu ia menemukan satu mayat yang ternyata masih utuh.

Padahal memasuki minggu ketiga mayat-mayat umumnya sudah rusak. Hal lain yang membuatnya benar-benar terkejut, mayat laki-laki yang diperkirakan masih berusia muda itu menebarkan aroma harum. “Saat mengangkat mayat itu, kita semua tertegun. Biasanya, mayat-mayat yang lain saat diangkat baunya menusuk hidung. Tapi mayat yang satu ini malah harum. Saya yakin Allah telah menjaga jenazah itu.” kenang Heru.

Relawan lain, Agus, mengaku punya pengalaman yang aneh selama mencari mayat. Suatu hari ia menemukan mayat bertubuh besar. Logisnya mayat itu berat. Namun aneh, justru saat diangkat terasa ringan. Ia sempat berpandangan dengan rekan lain saat mengangkat mayat itu. Mereka juga mengaku mayat itu ringan sekali. “Apakah mungkin tertolong oleh amalannya yang banyak, sehingga mayatnya ringan,” katanya.

Muhammad Iqbal relawan yang tergabung dalam Tim SAR Nasional juga membeberkan pengalamnnya. Dia yang juga pegawai Dinas Perhubungan Pemprov Aceh ini, mengaku ada dua kejadian yang baginya sulit dilupakan. Pertama, saat mencari mayat di daerah Lhoknga, Aceh Besar. Saat memasuki hari ketiga bencana, ia mulai turun mencari mayat. Ia menemukan mayat ibu sedang memeluk anaknya, tertimbun pohon besar. Rambut anaknya tergulung kawat sedangkan kaki ibunya tergencet pohon.

Karena sulit, diputuskanlah kaki ibu itu dipotong. Sedangkan untuk mengevakuasi anaknya, dipotong pula rambutnya yang terbelit kawat. Setelah itu, mayat ibu dan anak itu dimasukkan ke dalam kantong mayat, berikut potongan kaki dan rambut anaknya. Mereka dimasukkan ke dalam satu kantong mayat. Kantong mayat itu pun dimasukkan ke dalam truk untuk dikirim ke tempat pemakaman massal. Sebelum di makamkan, semua mayat biasanya di foto terlebih dahulu.

Yang membuat Muhammad Iqbal terperanjat, ketika kantong mayat berisi ibu dan anak itu dibuka, posisi kedua mayat itu kembali seperti posisi pertama ditemukan oleh Tim SAR. Mereka berpelukan, seperti saat ditemukan. Lalu bagian kaki sang ibu yang dipotong, seperti terpasang lagi, alias menyambung. “kita semua benar-benar terperanjat. Tapi itulah Keagungan dari Yang Maha Kuasa,” katanya yang juga harus kehilangan banyak keluarganya akibat bencana tsunami.

Pengalaman kedua, saat memasuki hari ke 27 pencarian mayat. Timnya masuk ke daerah Leupung Aceh Besar. Saat itu ia mencari mayat di antara reruntuhan bangunan. Di daerah itu yang diperkirakan 12.000 orang meninggal karena tsunami, ia menemukan sosok mayat seorang ustadz. Kepastian bahwa ia seorang ustadz diperoleh dari keterangan warga setempat yang selamat. Yang membuatnya takjub, ternyata mayat ustadz itu masih utuh. Padahal mayat itu sudah hampir sebulan tergeletak.

Para relawan pencari mayat mamng patut diberi penghargaan. Tanpa bantuan mereka sulit rasanya Aceh bisa seperti sekarang.

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: