Jika Allah memperkenalkan DiriNya

“Jika Allah telah membukakan arah pengenalan (ma’rifat kepada-Nya), maka janganlah engkau menghiraukan soal amalmu yang masih sedikit sekali. Karena sesungguhnya Allah tidak membukakan pintu hatimu, melainkan Dia ingin memperkenalkan Diri kepadamu. Tidakkah Anda mengerti bahwa ma’rifat itu adalah anugerah-Nya kepadamu, sementara amalmu adalah pemberian darimu. Lalu di manakah letak perbandingan antara apa yang Dia anugerahkan kepadamu dengan apa yang engkau berikan kepadaNya?”

Orang yang ma’rifat kepada Allah, itu bukan berarti muncul karena usaha murni dari hamba Allah itu sendiri. Tetapi semata karena Allah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya, tanpa harus tergantung banyak atau sedikitnya amal sang hamba.

Oleh sebab itu, jika muncul ma’rifat dari anugerah Ilahi, kita tidak perlu berkecil hati karena amal kita baru sedikit. Mereka yang sedang menempuh jalan Allah akan merasa sedikit amalnya ketika sedang dalam penempuhan mendapatkan ma’rifatullah.

Justru yang ditekankan kepada kita, bagaimana kita mensyukuri dengan citarasa yang gembira atas anugerah itu. Sikap kita harus memandang keagungan Tuhan dan kehinaan hamba di sana. Bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang diperintahkan-Nya dan Dia pula yang memaksakan Kehendak-Nya, dari Dia dan kembali pada-Nya pula.

Bahwa munculnya ma’rifatullah itu semata karena kehendak-Nya, dan ma’rifat tidak akan pernah terjadi kecuali harus bersama-Nya, dengan-Nya, serta anugerah-Nya.

Sementara amal-amal kita tentu sekadar sebagai instrumen atau sarana saja, untuk merambah jalannya petunjuk tersebut, sama sekali amal-amal itu bukan sebagai upaya final untuk meraih ma’rifat-Nya. Amal-amal tersebut juga sebagai bentuk taqarrub kita kepada Allah Ta’ala, di samping dalam kerangka menunjukkan betapa kita semua memiliki sifat-sifat yang lemah dan serba kurang.

Di sinilah kita bisa membedakan dua sifat yang sama sekali berbeda, antara hamba dengan Tuhan. Jelas keduanya tidak sama, sebagaimana dalam Al-Qur’an ditegaskan:

“Apakah sama hamba yang diciptakan dengan Dzat yang Tidak Diciptakan, maka apakah kamu sekalian tidak ingat?” (QS. an-Nahl: 17)

Betapa jauh antara amal yang muncul dari upaya kita, dengan sesuatu yang datang dari Allah. Antara tindakan Allah yang menyertai kita dengan tindakan kita sendiri untuk menyelamatkan diri kita.

Tindakan atau perbuatan kita membutuhkan penjernihan dan ikhlas. Sedangkan tindakan Allah terhadap diri kita tidak disemai oleh kemusyrikan dan kekurangan. Muhammad bin Isma’il, yang populer dengan Khairun Nasaj mengatakan, “Buah amal-amal Anda, hanya sesuai dengan apa yang Anda perbuat, karena itu carilah buah dari anugerah-Nya dan kemuliaan-Nya, itu lebih utama bagi Anda.”

Lalu bagaimana nuansa ma’rifatullah itu sendiri?
Sulthanul Auliya Syekh Abul Hasan asy-Syadizily mengatakan, “Ma’rifat itu adalah nuansa yang memutus diri Anda dengan selain Allah, dan mendorong Anda untuk hanya kepada Allah Ta’ala.”

Beliau mengutip sebagian ucapan sufi, bahwa hakikat ma’rifat itu adalah cukup dengan Allah dari segala makhluk yang ada. Ia juga meneruskan, bahwa hakikat ma’rifat itu adalah kecukupan orang yang ma’rifat terhadap sifat-sifat yang dikenal atau obyek ma’rifatnya, untuk tidak mengenal selain dirinya. Itulah posisi yang disebutkan tadi bahwa rasa cukup dengan Allah dibanding segala yang ada.

Suatu saat, kata asy-Syadzily, saya sedang sakit di Qairuwan. Lalu saya berjumpa dengan Nabi SAW, dan langsung mengatakan kepadaku, “Sucikanlah bajumu dari kotoran, engkau bisa menjaga limpahan anugerah Allah dalam setiap nafas.” Kukatakan kepadanya, “Kalau begitu pakaian saya itu apa wahai Rasulullah? “. Allah telah mengenakan pakaian padamu dengan riasan ma’rifat, lalu riasan mahabbah, iman, tauhid, dan Islam. Siapa pun yang mengenal Allah (ma’rifatullah) maka segala sesuatu menjadi teramat kecil. Siapa pun yang mencintai Allah, segala sesuatu menjadi hina. Siapa yang mentauhidkan Allah, tak satu pun yang membuat dirinya menyekutukan-Nya. Dan siapa yang beriman kepada Allah, ia aman dari segala sesuatu, serta siapa yang pasrah (Islam) kepada Allah, ia akan sangat kecil berbuat dosa kepada-Nya. Kalau toh ia berbuat dosa, ia segera mohon maaf kepada-Nya, dan jika ia mohon maaf diterimalah ma’afnya itu.”
Maka aku langsung bisa paham apa arti ayat Al-Qur’an , “Wa tsiyabaka fa-thahhir!” (maka sucikanlah pakaianmu).

Tag: , , ,

Satu Tanggapan to “Jika Allah memperkenalkan DiriNya”

  1. hoeny Says:

    Memang benar pendapat tersebut bahwa Allah adalah pencpta seluruh alam.Maka memang seharusnya kita merasa kecil dan hina di hadapan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: